Senin, 27 Februari 2012

JENIS-JENIS PEKERJAAN FONDASI UNTUK GEDUNG BERTINGKAT



Jenis pondasi untuk gedung bertingkat pada umumnya menggunakan “Fondasi Dalam” atau deep foundation, hingga mencapai kedalaman di mana daya dukung tanah sudah cukup tinggi.
Fondasi dalam, biasanya berbentuk tiang, dan ada tiga jenis, yaitu:


1. Tiang Pancang
Ditinjau dan jenis material, tiang pancang dapat dibuat dan:
• Beton bertulang.
• Baja (Pipa, Baja profil).
Ditinjau dan Soil Displacement yang terjadi selama proses pemancangan ada dua jenis yaitu:
• Large soil displacement, untuk jenis-jenis tiang pancang beton masif dan pipa close ended.
• Small soil displacement, untukjenis-jenis tiang pancang baja profile dan pipa open ended.
Bila panjang tiang pancang menurut desain dibutuhkan lebih panjang dari tinggi alat pancang yang dipergunakan, maka selama proses pemancangan tiang pancang dapat dibagi menjadi dua bagiari, di mana bagian pertama dipancang, kemudian disambung dengan bagian kedua, dan dilanjutkan dengan pemancangan berikutnya.
Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam pekerjaan pemancangan, antara lain sbb:


• Titik-titik ukur untuk memberikan guide posisi letak titik pancang

· untuk kelompok tiang pancang, arah pemancangan dimulai dan
dulam ke arab luar, terutama untuk tiang yang large soil
displacement
dan beijarak rapat, untuk menghindani terjadinya
heaving pada tiang.

· Pergerakan alat pancang sebaiknya ke arah belakang (mundur),
agar tidak terhalang oleh sisa ketinggian tiang-tiang yang masih
muncul di atas permukaan tanah, yang baru selesai dipancang.

· Pemancangan tiap titik sebaiknya dilakukan sampai selesai, jangan
ditinggal di tengah proses pemancangan. Karena bila ditinggal,
jepitan (friction) tanah akan bekerja sehingga tiang akan sulit
diturunkan lagi.

· Pemancangan kelompok tiang yang jaraknya cukup rapat dengan large soil displacement (tiang masif atau tiang yang closed ended) dapat menimbulkan persoalan heaving, yaitu munculnya kembali tiang yang sudah dipancang. Untuk menghindari persoalan tersebut, maka urutan pemancangan harus diperhatikan, yaitu dengan arah dan tengah ke luar
Urutan pemancangan kelompok tiang dengan large soil displacement (dan pusat ke arah luar).

2. Tiang Bor (Bored Pile)

· Tiang bor dibuat dari beton bertulang, dan jenis tiang bor ini memiliki daya dukung yang jauh lebih besar clibanding tiang pancang. Untuk memperbesar daya dukung tiang bor dan menambah kekuatan tank, pada pangkalnya dapat dibuat bendolan yang membesar.
Pada pelaksanaan tiang bor, dipancang pipa cashing terlebih dahulu, kemudian dilakukan pengeboran tanah. Untuk menjaga agar tidak terjadi keruntuhan tanah, maka selama pengeboran lubang diisi bentonite. Setelah elevasi bor tercapai (diperiksa jenis tanah diujung pengeboran), maka dimasukkan tulangan dan dicor beton tkmgan rnenggunakan pipa termi.
Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam pekerjaan tiang bor, antara
lain sbb:
• Titik-titik ukur untuk memberi guide posisi letak titik tiang
• Disiapkan drainase, penampungan dan pembuangan lumpur hasil pengeboran.
• Keakuratan kedalaman bor (bottom level)
• Kecermatan kualitas beton
• Penggunaan bentonite untuk mencegah runtuhnya tanah pada lubang bor
• Pergerakan Alat bor ke arah belakang (mundur)
• Keakuratan elevasi pemberhentian cor beton(Top Level). Kondisi tanah di bawah biasanya tidak dapat diketahui secara pasti, oleh karena itu, volume pengecoran beton untuk bore pile tidak dapat dipastikan. Untuk menghindari risiko ketidakpastian, dapat ditempuh dengan cara diukur kenyataan yang terjadi saja.


3. Tiang Franki (Franki Pile)
Sistem Franki Pile, dilihat dan proses pelaksanaannya, mengg unakan kombinasi antara pemancangan dan pengecoran, yaitu dengan
• Membuat lubang dengan cara penumbukan material dalam pipa casing sampai mencapai elevasi yang disyaratkan.
• Kedalam lubang yang ada diisi penulangan kemudian di cor beton.
Urutan pelaksanaan bored pile, dapat dijelaskan sebagai berikut:


(I) Mengebor tanah pada titik-titik yang telah ditetapkan, bila perlu rnenggunakan pipa casing, sampai kedalaman yang dipasang pipa casing.


(2) Mengebor tanah sampai kedalaman yang direncanakan, bila kondisi tanahnya mudah runtuh, digunakan/diisi lumpur bentonite

(3) Dasar lubang bor, dibersihkan dan bekas-bekas pengeboran dengan menggunakan bucket.
(4) Rangkaian penulangan tiang bor dimasukkan, bila perlu penyambungan, digunakan sambungan las agar kuat menahan.
(5) Pembersihan ulang bila masih ada kotoran, dengan menggunakan alat penyedot khusus.
(6) Pasang pipa tremi untuk pengecoran beton, sampai ke lubang dasar bor.
(7) Pengecoran beton tiang bor, sambil menarik/mencabut casing.
(8) Tiang bore selesai dan siap dihubungkan dengan pile cap.

Urutan pelaksanaan franki pile, dapat dijelaskan sebagai berikut:


(1) Temporary casing ditancapkan pada posisi titiktiang, kemudian diisi adukan beton kering secukupnya sebagai sumbat (plug).


(2) Plug ditumbuk dengan hammer, dan plug akan turun diikuti oleh pipa casing, air tanah tidak akan masuk ke pipa casing karena
ada plug.


(3) Setelah mencapai kedalaman yang dikehendaki, casing ditahan dan plug tetap ditumbuk sampai keluar dari pipa casing, dan bentuknya akan membesar.


Proses penumbukan plug didasar casing, hanya akan menimbulkan getaran dan suara yang relatif kecil, sehingga tidak mengganggu seperti tiang pancang. Setelah kedalaman cukup, lalu dilanjutkan dengan memasukkan penulangan tiang, dan pipa tremi.
Pengecoran tiang beton dilakukan dengan pipa tremi sambil mengangkat temporary casing.
Tiang frankie selesai dan slap dihubungkan dengan pile cap. Pada sistem ini tidak ada tanah yang dibuang.

PEKERJAAN PERSIAPAN SEBELUM PEMBANGUNAN GEDUNG BERTINGKAT DILAKUKAN




Sebelum pekerjaan pembangunan gedung di mulai, untuk menjamin lancamya, pelaksanaan perlu dilakukan dan dipikirkan hal-hal yang mempengaruhinya, antara lain sebagai berikut:

· Access Road (Jalan Masuk)


Untuk keperluan transportasi/pengangkutan raw material, fabricc .ed material, peralatan dan lain-lain, maka diperlukan access road yang cukup memadai, baik lebarnya maupun kekuatan . Access Road ini ditinjau dan lokasinya ada dua, yaitu:
1. Off Site Access
Jaringan jalan yang ada di luar lokasi dimanfaatkan sebagai access road. Untuk ini perlu diketahui hal-hal sebagai:
• apakah ada yang perlu pelebaran
• apakah ada yang penlu perkuatan
• apakah ada peraturan lalu lintas atau peraturan daerah yang perlu diperhatikan.


2. On Site Access
Di dalam lokasi sendiri, diperlukan juga jalan untuk transportasi dalarn lokasi dan pergerakan dan peralatan yang digunakan. On site access ini perlu direncanakan sebaik-baiknya, terutama untuk
mengetahui gangguan yang ada di dalam lokasi seperti:

• gangguan di atas (over head obstruction)
• gangguan di permukaan tanah (ground obstruction)
• gangguan di bawah tanah (underground obstruction)
Perencanaan access ini menjadi satu kesatuan dalam perencanaan
site (site plan).


Site Plan


Lahan pada lokasi proyek, perlu direncanakan sebaik-baiknya untuk keperluan menampung dan mengatur seluruh kegiatan yang ada di lokasi meliputi:
• kantor-kantor (offices)
• gudang (terbuka dan tertutup)
• barak kerjaltempat fabrikasi
• on site access
• fasilitas-fasilitas kerja lain, seperti car wash misalnya. Bila lahan lokasi proyek sangat terbatas, maka perlu pemanfaatan
lahan lain yang berdekatan atau bila terpaksa menggunakan lahan bangunan permanen secara sementara dengan penjadwalan yang detail dan rinci, agar tidak terlalu mengganggu kelancaran pekerjaan.


Pedoman Pengukuran
Agar bangunan dapat diletakkan path posisi yang diingirikan sesuai rencana maka diperlukan pedoman-pedoman pengukuran. Pedoman pengukuran yang diperlukan adalah:
• Pedoman titik koordinat, hal ini diambil dari “Bench Mark” (BM) yang ada di sekitar/di dekat lokasi atau berpedoman pada bangunan yang telah ada.
• Pedoman elevasi, untuk dapat menetapkan elevasi ± 0 untuk bangunan tersebut.
Kedua pedoman tersebut harus selalu dijaga agar tidak mengalami perubahan dan senantiasa harus dicek kernbali, sampai dengan pedoman tersebut telah dipindahkan pada bagian bangunan yang telah dilaksanakan, secara tetap.


Alat Angkat
Kegiatan transportasi vertikal adalah merupakan jantungnya kegiatan pelaksanaan pembamgunan gedung, oleh karena itu pemilihan alat angkat yang digunakan serta letak dan pergerakannya perlu ditetapkan/direncanakan lebih dahulu.


Jenis Alat Angkat


Dan objek yang diangkat, maka alat angkat dibagi menjadi dua, yaitu:
1. Alat angkat barang-barang kecil dan tenaga kerja orang yaitu:


passenger host.


Passenger hoist mi berbentuk boks yang tertutup dan memiliki pintu untuk keluar masuk, dan dilayani oleh seorang operator di dalamnya untuk mengoperasikannya. Boks tersebut bergerak secara vertikal pada tiang rangka baja yang menempel pada gedung.


2. Alat angkut barang-barang besar dan berat, yaitu: mobile crane dan atau tower crane.
Mobile crane ada dua jenis yaitu wheel (roda ban) dan crawler (rantai baja), biasanya digunakan untuk mengangkat barang yang tidak tinggi (2 atau 3 lantai).
Sedangkan tower crane, digunakan untuk transportasi vertikal
pada pelaksanaan gedung bertingkat tinggi.
Tower crane ada tiga jenis, yaitu:
1. Static base crane, berdiri secara tetap pada fondasi dan untuk kekakuannya diangker ke bagian gedung yang selesai dibangun.


2. Rail mounted crane atau traveling crane, berdiri bebas dan dapat bergerak sepanjang rail yang ada.

3. Climbing crane, bergerak ke atas dengan bertumpu pada lantai bangunan yang telah selesai dan terletak di tengah-tengah gedung yang dibangun. Kapasitas tower crane tergantung dan jenis dan tipe tower crane, serta panjang lengan pada saat mengangkat (makiƱ panjang lengan angkatnya, kemampuan angkatnya menurun).


Letak Alat Angkat


Untuk mobile crane, karena sifatnya yang dapat bergerak bebas,
tidak tergantung pada letaknya. Tetapi yang perlu dipikirkan adalah
manuver/pergerakannya efisien atau tidak.
Sedangkan untuk tower crane dan passenger hoist, perlu direncanakan letaknya secara tepat karena akan mempengaruhi produktivitas kerja.
a. Letak passenger hoist
Letak passenger hoist diupayakan sebagai berikut:
• Sedekat mungkin dengan pusat dan daerah yang dilayani
• Tidak terlalu banyak mengganggu kegiatan pekeijaan finishing.
b. Letak tower crane/climbing crane
Letak tower crane diupayakan sebagai berikut:
• Memiliki daerah pelayanan yang maksimal
• Dapat memanfaatkan struktur bangunan sebagai fondasi
• Over swing tower crane tidak mengganggu pihak lain (seperti bangunan, jalan raya, jalan kereta api, dan lain-lain).
Khusus climbing crane, struktur tempat berpijak harus cukup kuat menahan climbing crane selama operasi.